KabarPendidikan.id - Badan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (BP Taskin) menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat dapat menerima siswa yang tidak terdaftar dalam sistem administrasi kependudukan atau dalam data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Selasa (18/3).
Sekolah
Rakyat berkonsentrasi pada kelompok yang paling rentan, seperti pengumpul
sampah, anak-anak yang lahir dan dibesarkan di jalanan, dan tunawisma.
Nanik
S. Deyang, Wakil Kepala BP Taskin menyampaikan tujuan program ini ialah untuk
memberi mereka akses ke pendidikan dan menghindari siklus kemiskinan.
"Ini
benar-benar orang yang paling miskin, sering terlihat hidup di jalanan. Mereka
lahir di lingkungan yang tidak stabil dan akhirnya mewarisi kemiskinan orang
tuanya." Kata Nanik.
Selanjutnya,
Nanik S. Deyang menyatakan bahwa tidak ada yang tertinggal karena Sekolah
Rakyat tersedia untuk semua orang miskin, terutama mereka yang hidup dalam
kemiskinan ekstrim. Akibatnya, BP Taskin bekerja sama dengan Kementerian Sosial
dan berbagai pihak lain untuk menemukan kelompok masyarakat yang tidak
terdaftar di sistem pemerintah.
"Meskipun yang miskin ekstrim mungkin sudah terdaftar dalam data, ada
banyak yang belum terdaftar sama sekali." Ucap Nanik.
Ia mencontohkan bahwa, menurut laporan sementara dari
Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), ada sekitar 4,2 juta pemulung yang belum
terdaftar di Indonesia, dengan 25% di antaranya tidak memiliki nomor identitas
penduduk (KTP).
BP
Taskin akan terus memverifikasi data ini dan bekerja sama dengan Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil, juga disebut Dukcapil, untuk memproses individu
yang tidak memiliki identitas resmi untuk administrasi kependudukan.
"Tapi kita menemukan bahwa banyak dari mereka adalah pemulung, dan ini
masih laporan sementara kita perlu verifikasi."Ucap Nanik. "Nah ini berarti nanti yang kita
sekolahkan ini baik yang tidak memiliki KTP atau yang tidak memiliki KTP nanti
kita proses." Imbuhnya.
Anak-anak disekolahkan di Sekolah Rakyat berasrama, dan
orang tua diberi kesempatan untuk bekerja, berdagang, atau mengikuti program
transmigrasi.
Gus Ipul, Mensos Saifullah Yusuf, menyatakan bahwa dia telah menerima laporan
tersebut dan akan menyelidikinya.